Pernikahan Bukan Solusi Untuk Lari Dari Masalah

0
878
Pernikahan adalah momen yg sakral
(Via / &copy ; Beritapetang)

Beritapetang.com – (27/1/2016) Mungkin banyak di antara kalian yang sedang memikirkan ingin segera menikah di usia muda, bukan? Namun, apa alasan kalian untuk menikah di usia muda. Apakah untuk melarikan diri dari perkara kehidupan atau memang karena cinta yang tulus. Pernikahan adalah sebuah memomentum yang sangat sakral dan terjadi sekali dalam seumur hidup. Tetapi, sekarang banyak yang berfikiran bahwa pernikahan di jadikan untuk pelarian dari masalah-masalah kehidupan yang sedang dihadapi. Pernikahan, bukanlah hal yang bisa dijadikan sebagai solusi untuk menghindar dari masalah, tapi masih ada lagi masalah yang harus tetap dihadapi, seperti badai dan juga gelombang yang ganas. Banyak orang yang setuju bahwa pernikahan adalah momen sakral yang tidak dimulai dengan dasar pelarian dari masalah, melainkan dengan anugerah dan berkah.

Ada kalanya kita merasa hampa atau kosong, seakan-akan, segalanya menjadi hal yang tidak mengandung sedikitpun petunjuk tentang apa yang terjadi. Cobaan yang silih berganti, seperti gaji yang kurang tinggi sampai orang terdekat pun tidak ada yang bisa mengerti. Serta, gambaran untuk hari esok pun terasa tidak begitu cerah sedikitpun. Pada saat itu, kita merasa bahwa tiada lagi dermaga yang tepat untuk bersandar selain pasangan. Sehingga, muncul bayangan pernikahan yang menjadi sebuah kendaraan untuk membawa dirimu pergi atau menghindar dari permasalahan hidup yang menyelimuti. Nyatanya, bahtera rumah tangga bukanlah solusi yang tepat atas segala cobaan yang sedang dihadapi silih berganti. Sementara itu, di dalamnya terdapat banyak cobaan lainnya yang akan terus datang dan menghadang. Itulah jebakan dari imajinasi kita yang dapat membahayakan, sebab manusia selalu mencari jalan pintas untuk cepat sampai dan juga dapat membuatnya cepat bosan.

Pernikahan sebuah peristiwa yang dialami sekali dalam seumur hidup
(Via / m.dailymoslem.com)

Pernikahan dijadikan sebagai jawaban untuk pertanyaan orang-orang tentang “Kapan bisa menjadi dewasa?” Namun, sebenarnya penikahan adalah peristiwamu dan dirimu yang menjalankan, bukanlah orang lain. Permasalahan yang datang silih berganti saja belum selesai dan kini ditambah dengan tekanan dari orang-orang sekitar. Seakan-akan pernikahan hanya satu-satunya solusi tanda kedewasaan, memang benar adanya pelaminan dapat membawa kita untuk mengembangkan kepribadian. Namun, hal tersebut bukanlah satu-satunya jalan keluarnya tapi orang-orang salah mengartikannya dan akhirnya menjadi jalan yang utama. Serta, hanya ingin menjawab pertanyaan tersebut, banyak pasangan yang langsung melaksanakan acara pernikahan, dengan alasan “Malu di tanyain terus sama tetangga “. Padahal sebenarnya pernikahan yaitu pintu yang kamu buka dan juga kamu yang menjalankan tapi bukan mereka. Sehingga, alasan tersebut dirasa kurang masuk logika untukmu gunakan sebagai alasan untuk melangsungkan pernikahan, karena semua pemikiran tentang pernikahan diputuskan dari dalam diri, bukan dari luar.

Alasan lainnya yaitu kesulitan finansial, memang kita percaya bahwa kesulitan tersebut dapat terselesaikan dengan adanya rezeki pernikahan. Hal utama yang diperbincangkan dan menjadi kekhawatiran yaitu masalah ekonomi. Tapi, apakah keduanya sudah membuat kesepakatan untuk membagi beban ekonomi? Dan tentunya, masalah tersebut dapat di jawab dengan adanya mitos yang kuat menyebutkan bahwa ada rezeki pernikahan yang dapat menyelesaikan semua masalah itu. Hal tersebut dapat dipercaya dan boleh tidak dipercaya. Tapi masih banyak orang yang salah pengertian tentang mitos tersebut. Saat pernikahan dijadikan solusi untuk menyelesaikan masalah finansial karena berharap dapat siraman dari rezeki pernikahan.



Pernikahan bukanlah ajang pelarian masalah
(Via / news.okezone.com)

Ada yang bilang bahwa “Pernikahan bisa membuat manusia di lengketkan dengan beribu tanggung jawab sehingga mampu memberikan motivasi pada diri untuk bergerak lebih”. Kami setuju akan hal tersebut, namun pesan tersebut mengandung peringatan yang harus kita pikirkan untuk melakukannya dalam pernikahan. Bukan hanya soal fokus dalam mengejar impian, tapi apakah impian sejalan dengan kenyataan? Fokus bisa di dapat dimana saja dan kapan saja tergantung kitanya, apakah ada kemauan untuk terus melanjutkan langkah tanpa atau dengan pernikahan.

Bahtera rumah tangga bukanlah solusi untuk menyelesaikan semua masalah, tapi di dalamnya malah justru lebih banyak tantang atau cobaan yang datang. Memang setiap kehidupan memiliki masalah atau tantang masing-masing. Sama halnya dengan pernikahan, begitu menyeramkan ketika pernikahan di jadikan sebagai pelarian dari segala tantangan atau masalah. Ironis memang, resiko yang di hadapkan juga begitu melelahkan dan menguras energi karena masalah yang terus menghampiri. Pernikahan di pandang sebagai romantisme keluarga yang mampu menjadi solusi untuk lari dari masalah. Hal itu bisa menjadi benar, bila di dasarkan dengan cinta dan ketulusan bukan melainkan dengan kemauan yang tidak wajar atau tidak masuk akal.

Pernikahan di salah artikan sebagai jalan untuk kemandirian dan kebebasan, jika hal itu dijalankan maka akan bisa mengurangi rasa ketulusan. Ada yang berfikir bahwa pernikahan dapat membebaskan masa muda dari aturan-aturan yang dibatasi. Sehingga, ketika memiliki keluarga sendiri maka sesuatunya dapat diputuskan secara bebas atau mandiri. Padahal sebenarnya, jika kemandirian dan kebebasan dipaksakan maka berdampak pada ketulusan yang akan berkurang. Terlihat dari motivasi atau semangat awal ketika ingin memulainya, jika semangatnya hanya untuk kebebasan maka akan ada resiko yang dapat meruntuhkan rumah tangga.

Pernikahan menyatukan dua insan yang saling cinta
(Via / nasional.kompas.com)

Sementara, ada kebebasan yang berhubungan dengan aktivitas seksual. Memang berkaitan dengan adanya semangat yang religius yang menyatakan bahwa dapat menghindarkan dari zina. Kedengarannya sangat bagus memang, namun ada yang membalikkan hal tersebut menjadi “Ayo nikah supaya bebas melakukan hubungan seksual?”. Nyatanya memang hubungan seksual dapat membuat rasa penasaran ingin mencobanya. Tapi, jika hal tersebut sudah di penuhi melalui pernikahan maka yang didapat setelahnya adalah ketika rasa penasaran sudah mulai turun dan hubungan pun akan mudah goyah. Sementara, ada yang berfikir bahwa cinta dapat menyelamatkannya, tidak mungkin jika semangat awalnya dimulai dengan rasa kemandirian yang semu untuk menghindar dari masalah dan menikmati anugerahnya.

Sebenarnya, pernikahan bukanlah hal untuk di jadikan sebagai pelarian masalah, tapi melainkan untuk peristiwa penting yang sangat berarti dan beranugerah. Serta, tidak baik untuk dijadikan sebagai tempat pelarian dari masalah yang dihadapi. Pernikahan bukanlah tempat pengadaian yang dapat menyelesaikan semua masalah tanpa masalah. Pernikahan adalah peristiwa penting yang terjadi seumur hidup sebagai tingkat kematangan manusia, kemantapan prinsip manusia, dan kebijaksanaan manusia sebagai makhluk yang berakal. Pernikahan bukan untuk di gunakan sebagai tempat ajang pelarian masalah tetapi pernikahan sangat indah dan menyenangkan untuk dijalani jika didasarkan dengan ketulusan cinta. Tak ada larangan untuk menikah diusia muda, asalkan motivasi atau semangat didalamnya bertujuan untuk hal yang positif. (Mil / berbagai sumber).

Komentar