Distribusi Bulog Membantu Menstabilkan Harga Pasaran Beras

0
543
KEDIRI, 19/1 - PENYALURAN RASKIN. Seorang buruh panggul melakukan bongkar muat beras untuk rakyat miskin (Raskin) di gudang Bulog Sub Divre V Kediri, Jawa Timur, Selasa (19/1). Untuk menekan kenaikan harga beras dipasaran, Perum Bulog Divre V Jatim akan menyalurkan 40.000 ton raskin hingga akhir Januari. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, harga beras di Jawa Timur naik dari Rp 5.500 per kilogram pada Desember 2009 menjadi Rp 6.000 per kilogram pada Januari 2010. FOTO ANTARA/Arief Priyono/Koz/hp/10.

Krisis akan beras memang membuat kesulitan bagi setiap orang, melambungnya harga beras membuat beberapa masyarakat merasa diberatkan untuk mengkonsumsi beras. Karena kemunculan beras plastik, masyarakat pun enggan untuk membeli beras murah dikarenakan takut mendapatkan beras oplosan ini.

Pemerintah pun berupaya untuk menstabikan harga beras di pasaran. Direktur utama perum bulog, Lenny Sugihat mengatakan bahwa stok beras bulog mencapai 1,37 ton terhitung mulai tanggal 26 Mei 2015, khusus beras untuk orang yang kurang mampu mencapai 1,014 ton. Ia berpendapat bahwa stok beras bulog masih aman untuk 5 bulan kedepan.

Lenny juga menambahkan , untuk menjaga kestabilan harga beras saat puasa dan lebaran, pembagian beras bulog sudah dibagikan secara merata. Khususnya untuk wilayah yang tidak memiliki stok beras yang memadai. “Kami aktif melakukan pemerataan pengiriman beras ke sentral non produksi untuk menjaga stabilisasi dan untuk menyongsong puasa,” ucapnya.

Untuk menjaga pasokan beras bulog ini, dilakukan juga kerjasama langsung dengan petani yang saat ini sudah terjalin kerja sama dengan 1083 mitra penggilingan.



“Strategi lain yang kami lakukan adalah dengan memasang iklan di media. Ada 88 kali tayangan iklan yang menyatakan Bulog siap menyerap gabah dengan kualitas sesuai Inpres nomor 5 Tahun 2015. Jadi bawa gabah ke Bulog,” tuturnya.

Ia pun berharap beras bulog ini dapat membantu menstabilkan harga beras dipasaran. Harga beras yang melambung cukup tinggi ini sungguh memberatkan bagi mereka yang berada dalam tahap ekonomi menengah kebawah.

Komentar